Kembali ke halaman sebelumnya

Pilu Bocah Bandung Derita Usus Bocor, Perut Harus Ditutup Plastik

news.detik.com 5 jam yang lalu
Bocah di Bandung mengalami usus bocor hingga perutnya ditutup plastik
Bocah di Bandung mengalami usus bocor hingga perutnya ditutup plastik (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Nasib malang dialami As Syifa Qolbiah Anwar, bocah tiga tahun asal Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung. Dirinya mengalami usus bocor sejak usianya baru tiga bulan.

Anak pertama dari pasangan Leni Hermawati (44) dan Saepul Anwar (44) itu diketahui mengalami panas tinggi dan sakit pada bagian perut sejak usia 3 bulan. Keduanya baru tahu bahwa Syifa alami kebocoran usus saat konsultasi dengan dokter spesialis anak di daerahnya.

Diperlukan tindakan cepat, Syifa diharuskan melakukan operasi di Rumah Sakit Immanuel. Untuk pertama kalinya di usianya yang baru lima bulan, Syifa harus menjalani operasi pada bagian perutnya.

"Syifa harus dibawa ke RS Immanuel buat dioperasi. Waktu itu belum punya BPJS, jadi pakai SKTM saja," tutur Leni kepada detikcom saat ditemui di rumah tinggalnya, Kampung Ranca, No 27, RT 1, RW 27, Dusun Citawa, Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, Selasa (26/10/2021).

Perut Syifa pun diharuskan mengikuti prosedur kolostomi, di mana dokter membedah dan membuat lubang pada bagian perut. Kemudian, menempelkan usus yang masih berfungsi pada lubang perut. Maka, usus tersebut akan nampak dari luar seperti daging yang menempel di perut.

Saat Syifa akan buang air besar, kotoran itu akan keluar dari perut yang sudah dilubangi itu. Kotoran hasil pencernaan akan ditampung pada sebuah wadah atau plastik yang hanya sekali pakai. Leni mengenal wadah tersebut dengan nama kolostom.

Namun, harga kolostom cukup mahal. Maka, ia pun terpaksa menggunakan plastik bening yang tersedia di warung.

"Kolostom satunya aja Rp 85 ribu, saya cuma bisa beli satu sampai tiga aja. Tapi sehari bisa 5 kali buang kotoran. Ya terpaksa, saya mah pakai plastik bening yang ada di warung. Harganya murah, cuman Rp 3 ribu aja," ucapnya.

"Gak apa apa kata dokternya, asal steril," jawab Leni saat ditanya soal penggunaan plastik tersebut.

Leni menuturkan, sejak kecil Syifa tidak pernah makan lebih dari dua sendok. Bahkan, makanannya pun harus mudah dikunyah agar tidak menyulitkan usus untuk mencerna makanan.

Terkadang, Syifa pun sering menangis tidak karuan ketika perutnya terasa sakit. Ibunya hanya bisa pasrah sembari berharap tangisannya berhenti.

Namun, di saat tidak sakit, Syifa merupakan anak yang aktif. Ia berlari lincah dan suka bermain sepeda. Meski begitu, apabila sudah terlalu jauh maka orang tuanya akan membawa Syifa kembali pulang.

"Takut soalnya kan harus tetap steril, takut jatuh atau ke buka nanti infeksi, malah makin parah," tutur Leni.

"Tapi Alhamdulilah aktif anaknya, kalau yang lain sering nangis pas dibawa ke rumah sakit, Syifa mah Alhamdulilah, tiga hari beres operasi kedua, udah lari-larian," ungkapnya.

Dalam dua bulan ke depan, Syifa akan dilakukan operasi yang ketiga. Dengan uang pas-pasan, kedua orang tua Syifa berusaha agar anaknya dapat kembali sehat. Mereka pun membutuhkan uluran tangan masyarakat agar keberlangsungan kesehatan Syifa dapat terjamin.

Kembali ke halaman sebelumnya