Kembali ke halaman sebelumnya

Banyak Orang Divaksin dan Obat Segera Tersedia, Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Jawaban WHO

tribunnews.com 5 jam yang lalu
Banyak Orang Divaksin dan Obat Segera Tersedia, Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Jawaban WHO
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

TRIBUNWOW.COM - Hampir dua tahun pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan di dunia tidak hanya berpengaruh dalam masalah kesehatan namun juga sosial dan ekonomi.

Kini, banyak masyarakat yang sudah divaksin dan obat-obatan pun sudah banyak di kembangkan dan segera tersedia. 

Lalu, kapan pandemi akan berakhir?

"Pandemi akan berakhir ketika dunia memilih untuk mengakhirinya," kata Direktur Jendral Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Anam dalam pidatonya di Berlin, Jerman, Minggu (24/10/2021), dikutip dari Zee News.

"Itu ada di tangan kita. Kita memiliki semua alat yang kita butuhkan, alat kesehatan masyarakat yang efektif dan alat medis yang efektif. Tetapi dunia belum menggunakan alat itu dengan baik," tambahnya.

Bahkan dia menyebut pandemi masih jauh dari selesai. 

Pasalnya, meski sudah banyak diketahui dan tersedia fasilitas kesehatan yang memadai, angka kematian akibat Covid-19 masih tinggi. 

"Dengan hampir 50 ribu kematian seminggu, pandemi masih jauh dari selesai, dan itu hanya kematian yang dilaporkan," katanya. 

Dia menambahkan bahwa Covid-19 telah mengekspos kesenjangan serius dalam kemampuan global untuk mempersiapkan, mencegah, mendeteksi, dan merespons dengan cepat wabah dengan potensi epidemi dan pandemi.

Dunia, menurutnya, harus ikut berpartisipasi dalam menangani wabah ini meski itu jauh dari negaranya.

"Pandemi telah menunjukkan tanpa keraguan bahwa kesehatan bukanlah kemewahan bagi orang kaya, atau hanya hasil pembangunan, itu adalah hak asasi manusia yang mendasar, dan dasar stabilitas sosial, ekonomi dan politik," tambah Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dia menyatakan bahwa tidak ada negara yang dapat mengakhiri pandemi dalam isolasi dari seluruh dunia dan tidak ada negara yang dapat melindungi kesehatan rakyatnya sendiri tanpa bekerja untuk melindungi kesehatan semua orang.

Dia juga meminta negara-negara G20 yang telah memvaksinasi 40 persen populasi mereka untuk secara aktif terlibat dalam mekanisme COVAX, serta African Vaccine Acquisition Trust (AVAT).

"Tidak ada negara yang dapat mengakhiri pandemi Covid-19 dalam isolasi dari seluruh dunia. Dan tidak ada negara yang dapat melindungi kesehatan rakyatnya sendiri tanpa bekerja untuk melindungi kesehatan semua orang," lanjutnya.

Gelombang Ketiga Kasus Covid-19 Terlihat di Eropa

Kini setelah Inggris dan Rusia menyatakan kasus Covid-19 di negara itu naik, dan perbatasan kembali ditutup, itu menyatakan bahwa sudah ada gelombang Covid-19 ketiga. 

Dan, itu justru terjadi di negara-negara yang sudah memiliki populasi vaksin cukup tinggi. 

Inggris dikabarkan kembali mengalami kenaikan kasus Covid-19 setelah melandai pada beberapa pekan. 

Per Senin (18/10/2021) kasus di Inggris mencapai 49.156, kasus yang cukup banyak untuk negara berpenduduk sekitar 60 juta jiwa. 

Dan alam sepekan angkanya konsisten di angka hampir mencapai 50 ribu kasus per hari.

Angka itu juga disebut sebagai angka tertinggi sejak bulan Juli di mana Inggris diserang oleh varian Delta.

Dilansir dari The Guardian, diketahui bahwa mayoritas penduduk Inggris sudah mendapat vaksinasi Covid-19. 

Namun, nampaknya itu tidak berpengaruh dengan jumlah kasus di Inggris ketika pemerintah banyak melonggarkan aturan terkait karantina Covid-19. 

Meski begitu vaksin Covid-19 masih dipercaya bisa melindungi pasien Covid-19 dari keparahan. 

Kemudian pada Selasa (19/10/2021), mutasi baru varian Delta Covid-19 kembali ditemukan di antara peningkatan kasus tersebut. 

 Menurut otoritas setempat, para ahli kini sedang mempelajari lebih lanjut terkait mutasi baru varian Delta yang dinamakan AY.4.2, atau dikenal juga dengan varian Delta Plus. 

AY.4.2, mengandung mutasi yang mungkin memberi Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 memiliki keuntungan bertahan hidup yang lebih besar.

 Terlebih varian itu ditemukan di wilayah yang kebanyakan penduduknya belum divaksin. 

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya mutasi varian Delta ditemukan. 

Dilansir dari First Post, diketahui ada juga dua mutasi lainnya dari Delta yaitu E484K dan Delta dengan E484Q.

Namun, sejauh ini belum ada yang masuk ke dalam pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Baik itu varian yang menjadi perhatian, atau varian yang sedang diselidiki.

Ini pertama kali diketahui pada Juli 2021 dan sejak itu cabang atau sublineage Delta ini perlahan-lahan meningkat.

Ini mencakup beberapa mutasi baru yang mempengaruhi protein lonjakan, yang digunakan virus untuk menembus sel kita.

Namun, nampaknya varian baru ini menjadi atensi karena ditemukan di Inggris di mana mayoritas warganya sudah divaksin.

"Ini berpotensi jenis yang sedikit lebih menular," kata Profesor Francois Balloux, direktur Institut Genetika Universitas College London.

“Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kami lihat dengan Alpha dan Delta, yang kira-kira 50 hingga 60 persen lebih mudah menular."

"Jadi kita berbicara tentang sesuatu yang cukup halus di sini dan yang saat ini sedang diselidiki. Ini kemungkinan hingga 10 persen lebih menular. Ada baiknya kita sadar,” katanya.

Kini kasus Covid-19 di Inggris juga sedang dalam perhatian banyak pihak. 

Sejumlah ahli terus memantau perkembangan kasus Covid-19 di sana dan mencari tahu apakah ada kaitannya dengan mutasi baru Covid-19 varian Delta.

"Kami telah melihat tingkat kasus meningkat, kami mulai melihat beberapa indikasi bahwa rawat inap dan tingkat kematian juga meningkat," kata juru bicara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

"Jelas kami sangat memperhatikan kenaikan angka kasus, pesan paling penting untuk dipahami publik adalah pentingnya program booster dan memang untuk anak-anak yang memenuhi syarat untuk maju dan mendapatkan suntikan kami," kata juru bicara.

“Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kami lihat dengan Alpha dan Delta, yang kira-kira 50 hingga 60 persen lebih mudah menular. Jadi kita berbicara tentang sesuatu yang cukup halus di sini dan yang saat ini sedang diselidiki. Kemungkinannya hingga 10 persen lebih menular. Ada baiknya kita sadar," katanya.

Namun, Inggris nampaknya bisa membanggakan hasil vaksinasi yang sudah berjalan di sana.

Disebutkan infeksi baru itu sejalan dengan prediksi dan bahwa program vaksin telah secara substansial memutuskan hubungan antara kasus, rawat inap, dan kematian.

Pada hari Senin, Inggris melaporkan dari 49.156 kasus Covid-19 baru ada sekitar 45 kematian dalam 28 hari terakhir. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Kembali ke halaman sebelumnya